Motor Listrik Honda

SolusiMobil.com – Sejak tahun lalu Thailand telah menyiapkan peraturan dan dasar infrastruktur untuk pemasyarakatan motor listrik. Langkah Negeri Gajah Putih tersebut dapat berpengaruh terhadap Indonesia dalam jangka panjang.

 

“Memang, kalau dilihat secara sepintas memang terkesan sepele. Namun, dalam jangka panjang, ketika tren motor listrik sudah menggejala dimana-mana, kita bisa repot. Satu hal yang harus diingat, seperti halnya dalam proses pengenalan motor baru lainnya, apa yang dilakukan Thailand bisa menjadi trendsetter,” papar Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia, Sigit Kumala, dikutip dari Dapurpacu.

 

Menurutnya, tahun lalu Thailand telah mempersiapkan secara serius segala peraturan dan kebijakan yang terkait dengan investasi, proses produksi, hingga penggunaan motor listrik di dalam negeri. Bahkan, dasar-dasar infrastruktur pun telah mulai disiapkan.

 

Jika negeri itu benar-benar telah mempersilahkan produsen untuk memproduksi motor listrik  dan menetapkan kebijakan penggunaan motor bertenaga dari arus setrum di dalam negeri, maka pengaruhnya kemungkinan menjalar ke Indonesia sangat besar. “Biasanya, tenggang waktu antara (tren yang terjadi ) di Thailand dengan Indonesia itu antara  tiga sampai empat tahun. Karena itu, kita perlu waspada,” kata Sigit.

 

Kewaspadaan  pertama adalah, kemungkinan terjadinya impor motor listrik dari Negeri Gajah Putih tersebut. Terlebih, saat ini, dengan  berlakunya tatanan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), maka arus keluar masuk  barang dan jasa di antara negara anggota ASEAN  semakin bebas dengan tarif nol persen.

 

Walhasil, jika tak diantisipasi – terlebih jika di Indonesia motor listrik sudah semakin disukai – maka Indonesia bakal menjadi pasar bagi produk yang dibuat di negara itu. Terlebih, jika harga yang dipatok oleh pabrikan di Thailand lebih murah karena tarif bea masuknya ke Indonesia nol persen karena menggunakan skema MEA.

 

“Memang, pada awal-awal orang masih mengira sebagai hal yang biasa atau mungkin menganggap remeh karena motor listrik belum cocok di Indonesia. Tapi  ini kan bicara jangka panjang, jangan nantinya kita tergagap-gagap,” papar Sigit.

 

Kewaspadaan kedua adalah, kemungkinan hilangnya kesempatan menggarap negara tujuan ekspor. Seperti diketahui, ekspor motor Indonesia ke sejumlah negara baik di wilayah Eropa, Amerika, dan Asia hingga saat ini cukup besar.

 

Melihat kemungkinan berkembangnya segmen motor listrik  – terutama di negara-negara Eropa dan Amerika  – yang semakin meningkat, maka tidak ada salahnya jika ekspor yang selama ini sudah dilakukan dibarengi dengan tawaran motor listrik. Dengan demikian, lanjut Sigit, Indonesia bakal semakin memperbesar kapasitas ekspornya, sekaligus menciptakan lapangan kerja di dalam negeri.

 

“Oleh karena itu, adanya stimulan mulai dari kemudahan berinvestasi hingga insentif pajak bagi pabrikan yang ingin memproduksi motor listrik itu, akan menjadi kunci bagi pengembangan motor listrik. Apalagi kalau di dalam negeri , motor listrik juga sudah mulai memasyarakat,” paparnya.