Kirab Esemka

SolusiMobil.com - Proyek mobil Esemka yang mempopulerkan Joko Widodo (Jokowi) hingga sukses mendapuk jabatan orang nomor satu di Indonesia, rupanya masih terus bergulir. PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) selaku inisiator mobil merek nasional ini sepertinya sedang mempersiapkan diri untuk memproduksi mobil Esemka secara massal.

 

Dikutip dari VIVA, PT SMK tak sendiri, lantaran digandeng PT Adiperkasa Citra Esemka (ACE) milik AM Hendropriyono dan sejumlah perusahaan pendukung lainnya. Berdasarkan informasi yang berembus, keduanya telah sepakat memproduksi Esemka dengan sejumlah model, beberapa di antaranya bergenre Sport Utility Vehicle (SUV) Double Cabin dan Multi Purpose Vehicle (MPV).

 

Hal itu pun dipastikan Direktur Marketing dan Komunikasi Publik PT SMK, Sabar Budi. Meski secuil informasi yang disampaikan, namun dia tak menampik rencana produksi massal Esemka tak lama lagi akan dilakukan.

 

"Progress masih jalan, tetapi kami belum bisa sampaikan. Nanti akan ada waktunya di mana kita gelar konferensi pers seputar itu," kata Sabar Budi, Kamis, 24 Maret 2016.

 

Dari rencana yang ada, produksi disebutkan sejumlah pihak akan dilakukan pada semester I 2016. Peresmian akan dilakukan di pabriknya di Boyolali dan akan dihadiri Presiden Joko Widodo. Pabrik di Boyolali sejauh ini masih terus dikerjakan untuk pembangunan.

 

"Kami tidak bisa pastikan, bisa saja Semester I tahun ini, bisa jadi tahun depan. Karena kan memang semuanya masih proses, semuanya bisa saja meleset," kata Sabar.

 

Sementara itu, seperti dilansir di situs resmi PT ACE, pendiri PT Adiperkasa Citra Lestari, Hendropriyono menyatakan jika mobil yang dibuat dengan bekerjasama dengan PT SMK ini bukanlah mobil nasional. Menurut mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu, kendaraan itu lebih tepatnya disebutkan sebagai mobil yang dibuat di Indonesia.

 

"Sudah beberapa kali dibilang, itu bukan Mobnas (mobil nasional). Itu salah paham saja. Dikira kita seperti Proton (mobnas) bagi Malaysia. Mobil yang akan kita bangun adalah made in Indonesia, titik," tutur AM Hendropriyono. (one/wa)