SPBU Pertamina

SolusiMobil.com – Rencana penerapan standar Euro4 bagi mobil di Indonesia mulai tahun 2018 mendapatkan tanggapan serius para pemilik mobil lama. Soal insentif dan kesiapan bahan bakar, hingga sanksi yang tak memenuhi standar menjadi perhatian mereka. Rudi Ma’ruf, seorang pemilik MPV Nissan Livina misalnya mempertanyakan insentif yang bakal diterima pemilik mobil lawas yang menyesuaikan mobilnya dengan standar itu.

 

“Apa yang diberikan oleh pemerintah jika pemilik mobil lama melakukan upgrade mobilnya agar sesuai standar Euro4. Ya, untuk up grade tentunya juga butuh biaya dan butuh effort. Kami membeli mobil kan saat aturan pemerintah tentang standar itu belum diberlakukan,” papar warga Poris, Cipondoh, Tangerang, Banten, dikutip dari Dapurpacu.

 

Senada dengan Rudi, Ardi Chandra yang saat ini memiliki Suzuki Ertiga mengatakan, selain insentif bagi pemilik mobil yang beritikad baik menyesuaikan mobilnya dengan standar Euro 4, kesiapan infrastruktur pendukung juga harus dipastikan. “Jangan sampai sudah capek-capek mengubah, eh ternyata mau cari BBM-nya (Bahan Bakar Minyak) susahnya minta ampun. Ini kan namanya menyusahkan orang,” kata dia.

 

Pernyataan keduanya diamini Radit, salah satu punggawa komunitas pemilik Toyota Altis. “Kami mendukung kebijakan itu kalau tujuannya memang untuk kebaikan yakni demi lingkungan yang bersih dan udara tak terpapar polusi. Tetapi pemerintah juga harus memikirkan bagaimana caranya mobil lama memenuhi standar itu,” paparnya.

 

Artinya, lanjut dia, pemerintah juga harus memfasilitasi pemilik mobil lama saat mereka melakukan upgrade mobilnya. Dengan demikian, niatan baik pemilik tersebut akan terasa semakin ringan. “Ini untuk kebaikan bersama, pemerintah, pemilik mobil, dan masyarakat secara keseruhan karena lingkungan bersih yang didambakan juga terwujud,” ucapnya.

 

Sebelumnya, Direktur Pengendalian Polusi Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dasrul Chaniago, mengatakan peraturan tentang penerapan standar Eruro4 itu telah rampung dan sudah berada di biro hukum kementerian. Akhir tahun ini beleid itu sudah diteken dan mulai diberlakukan efektif pada 2018 bagi mobil baru dan 2019 bagi mobil yang berteknologi lama.

 

Dia menyebut, aturan itu selain untuk mendukung bagi mobil yang diproduksi di Indonesia dan akan diekspor juga untuk mobil yang digunakan di jalanan di Tanah Air.  “Negara-negara lain sudah menerapkan standar itu. Kita pakai Euro 4 supaya bisa ekspor mobil. Negara-negara tetangga sudah menerapkan Euro 4. Kalau kita bertahan dengan Euro 2 kita tidak bisa mengekspor mobil,” sebutnya.

 

Menurut Dasrul pihaknya juga melibatkan Pertamina sebagai penyedia bahan bakar dalam penerapan aturan anyar itu. Sedangkan Vice President Corporate Communication Pertamina Wainada Pusponegoro menjelaskan kepada Dapurpacu.com beberapa waktu lalu, pihaknya sudah bersiap diri dengan aturan baru soal standar itu.

 

Dia menyebut, Pertamina telah melakukan upgrade empat kilangnya untuk menghasilkan BBM berstandar Euro4. “Kami sudah mempunyai rencana upgrading empat kilang dalam refinery development plan. Dimana produksi bahan bakar minyak (BBM) akan mengarah pada (standar) Euro 4.”

 

Memang, lanjut Wianda, proses peningkatan empat kilang untuk menghasilkan produk yang berstandar Euro 4 itu tak bisa dengan serta merta, namun secara bertahap. Dia menyebut setidaknya butuh waktu tiga hingga tiga setengah tahun, dan sekarang sudah berlangsung.

 

“Sekarang sedang proses. Bukan otomatis (langsung menghasilkan produk BBM standar Euro 4 saat ini juga),” kata dia.

 

Selama dalam proses saat ini peningkatan produksi BBM berstandar Euro4 untuk setiap kilangnya telah mencapai 100.000 barel per hari. Dengan peningkatan tersebut, pada 2025 mendatang diharapkan kapasitas produksi empat kilang ini telah mencapai 2,5 juta barel per hari. [Car/Wa]