Motor Honda

SolusiMobil.com - Penjualan sepeda motor sepanjang Januari hingga Februari lalu tercatat sebanyak 940.936 unit atau turun 11,1 % dibanding periode sama tahun 2015 sebanyak 1.058.551 unit. Penjualan terbanyak terjadi di Jawa Barat, yakni 19,2%.

 

“Ini penjualan secara wholesales kumulatif dua bulan. Jawa Barat masih menjadi penyerap terbesar. Bahkan dalam dua tahun sebelumnya, yakni tahun 2014 dan 2015, wilayah juga menempati urutan pertama penyerapan sepeda motor,” tutur Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Sigit Kumala, di Jakarta, Kamis (31/3).

 

Tahun 2014, wilayah itu menyerap 17,2% dari total penjualan. Pada tahun berikutnya, penyerapan di daerah ini sebanyak 18,3%.

 

“Faktor hasil panen komoditas pertanian menjadi penopang daya beli di Jawa Barat. Artinya di tengah situasi daya beli masyarakat secara keseluruhan yang masih belum membaik, tingkat daya beli di Jawa Barat masih lebih tinggi,” papar Sigit.

 

Sementara, kondisi sebaliknya terjadi di Jawa Timur dan DKI Jakarta. Penyerapan motor di dua daerah itu sejak 2014 hingga tahun ini disalip Jawa Barat, dengan penurunan calon konsumen potensial dari pekerja di sektor industri dan jasa.

 

“Hasil penelitian kami menunjukan, banyak pekerja di sektor (industri manufaktur dan jasa) itu yang ragu membeli kendaraan (roda dua) karena dibayangi terjadinya pemutusan hubungan kerja. Maklum, karena banyak perusahaan (manufaktur dan sektor jasa) yang tidak memperpanjang kontrak karyawan,” tutur Sigit.

 

Padahal, pada tahun 2011, DKI Jakarta sempat bertengger di urutan pertama penyerap motor dengan porsi 14,2%. Namun, pada tahun berikutnya, posisi itu digeser oleh Jawa timur. Dalam dua tahun berturut-turut yakni tahun 2012 dan 2013, wilayah ini, berada di posisi pertama dengan porsi penyerapan 15,9% dan 17,5% dari total penjualan motor.

 

Sepanjang dua bulan pertama tahun ini – Januari hingga Februari – penurunan penjualan motor terbesar terjadi di Papua yakni 17,8%, disusul di wilayah Sumatera yang melorot hingga 16,8%, Kalimantan susut 13,8%. Harga komoditas perkebunan yang masih belum beranjak naik menjadi pemicu lemotnya permintaan motor di beberapa wilayah tersebut. [Dp/Wa]