Industri otomotif

SolusiMobil.com – Pemerintah telah memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 5,3 %, sementa Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 4,9%. Lebih rendah dari yang diperkirakan pemerintah, para pelaku bisnis otomotif menanggapi beragam dari perkiraan tersebut.

 

Pernyataan IMF yang dikutip dari Dapurpacu menyebut, pertumbuhan ekonomi  Indonesia tahun ini bakal mengalami akselerasi setelah beberapa tahun melambat. Investasi pemerintah yang bertambah dan respon positif atas reformasi  – pelonggaran kebijakan moneter dan lainnya – yang dilakukan pemerintah telah memantik pertumbuhan ekonomi.

 

“Indonesia juga terbukti mampu melewati tantangan merosotnya harga komoditas dan laju pertumbuhan ekonomi China yang melambat,” bunyi pernyataan lembaga itu.

 

Hanya, IMF juga mewanti-wanti agar pemerintah juga waspada karena risiko masih membayangi outlook ekonomi Indonesia tahun ini masih tinggi. Risiko itu terutama berasal dari faktor eksternal.

 

Kondisi finansial global cenderung masih bergejolak, masih bergejolaknya kondisi perekonomian di negara berkembang yang merupakan mitra dagang Indonesia, serta harga komoditas yang masih fluktuatif atau bahkan masih jeblok adalah ancaman potensial. IMF pun meminta Indonesia untuk cermat dalam membuat kebijakan pelonggaran moneter pada 2016 ini.

 

GAIKINDO: Target Tumbuh 5%, LCGC dan Ekspor Jadi Penunjang

 

Menanggapi woro-woro dari IMF itu, Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto mengatakan pihaknya akan mencermati perkiraan tersebut. Bersikap hati-hati dalam merumuskan target penjualan menjadi prinsip utama yang dipegang.

 

“Gaikindo memprediksi, kenaikan penjualan kendaraan bermotor roda empat (atau lebih) pada tahun ini hanya 5%. Sehingga, jika tahun lalu sebanyak 1.013.000 unit, tahun 2016 ini kemungkinan menjadi 1.050.000 unit,” paparnya, Rabu (16/3).

 

Prediksi itu, lanjut Jongkie, mengacu pada asumsi pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan pemerintah di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Sesuai dengan (yang ada di) APBN, kan (asumsi pertumbuhan ekonomi) 5,3%,” kata dia.

 

Namun, Jongkie mengaku menyadari dinamika perekonomian nasional juga sangat dinamis dan terus berkembang dari waktu ke waktu. Terlebih, kondisi tersebut juga terkait dengan situasi dan kondisi internasional terutama negara tujuan ekspor dan negara-negara besar mitra Indonesia.

 

“Kita lihat saja pertumbuhan ekonomi di bulan-bulan mendatang,” ucapnya.

 

Senada dengan Jongkie, General Manager Marketing Strategy and Product Planning PT Nissan Motor Indonesia Budi Nur Mukmin menyebut, pasar otomotif di Tanah Air diperkirakan tumbuh 5%. Soalnya, lanjut dia, pertumbuhan pasar otomotif tak bisa dengan serta merta paralel dengan pertumbuhan ekonomi.

 

“Tahun lalu misalnya, pertumbuhan ekonomi 4,7%, tapi pasar turun. Pertumbuhan industri mobil dipengaruhi oleh demand (permintaan) dan supply, selain faktor ekonomi (nasional),” paparnya.

 

Budi menyebut, dia melihat tahun ini ada peluang pasar akan naik tipis terutama karena adanya pertumbuhan di segmen menengah bawah yakni segmen mobil murah dan ramah lingkungan (LCGC). “Ketika kondisi masih belum sepenuhnya pulih, daya beli konsumen akan menurun.Ketika daya beli menurun maka pasar mobil terjangkau akan lebih berkembang,” paparnya.

 

Terlebih, menurut Budi, para pemain di segmen ini juga akan berlomba menggelontorkan model anyar. Walhasil, pasar pun akan terangsang. “Apalagi, kelompok kelas menengah baru juga terus bertambah. Banyak di antara mereka yang masuk ke segmen ini (LCGC),” imbuhnya.

 

AISI: Berharap Harga Komoditas dan Permintaan Ekspor Positif

 

Setali tiga uang dengan Jongkie, Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Sigit Kumala, mengaku memilih mencermati dulu antara prediksi IMF dengan fakta perkembangan ekonomi di Indonesia. Menurutnya, pasar sepeda motor memang sangat rentan dengan pasar komoditas di luar negeri serta tingkat konsumsi.

 

“Wilayah luar Jawa  – Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi – yang konsumennya berprofesi sebagai petani dan pekerja di sektor perkebunan atau pertambangan sangat tergantung harga komoditas. Sedangkan yang di Jawa dan Bali, tergantung sektor konsumsi,” tuturnya.

 

Jika harga komoditas – perkebunan dan tambang – masih jeblok maka daya beli mereka juga masih bakal lemah. Sedangkan di Jawa, sektor manufaktur memiliki kaitan yang erat dengan daya beli. “Jika konsumsi  naik, maka industri akan berproduksi dalam kapasitas besar, sehingga menyerap tenaga kerja. Jika tenaga kerja terserap, maka daya beli muncul dan permintaan motor juga terjadi,” jelasnya.

 

Oleh karena itu Sigit masih akan melihat sektor mana saja yang bakal menopang dan menggerakan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan mencapai 4,9% tersebut. “Sebab masih diwanti-wanti masih perlu waspada terhadap fluktuasi harga komoditas, kebijakan moneter, dan negara mitra dagang. Kalau hanya mengandalkan investasi dan belanja pemerintah, maka kenaikan pasar masih tipis,” imbuhnya. [Car/Wa]