Diskusi Forwot mengenai Euro 6

SolusiMobil.com - Sejak tahun 2003 hingga saat ini Indonesia telah mengadopsi standar Euro 2, faktanya hal ini dianggap belum berhasil sepenuhnya. Ditengarai, Pertamina selaku pemasok utama bahan bakar minyak (BBM) gagal karena masih menjual bensin berkualitas di bawah standar Euro 2.


Seperti disampaikan Ahmad Safrudin, Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) dalam diskusi Forwot (Forum Wartawan otomotif) “Tantangan Menuju Euro 6”, bahwa sejatinya adopsi standar Euro 2 selama ini saja masih gagal. Itu dibuktikan dengan masih belum sesuainya bensin jenis premium yang dijual untuk kendaraan dengan mesin yang sudah berstandar Euro 2.

“Seharusnya kan premium itu dihapus. Bahkan kami juga pernah mempersoalkan jenis baru Pertalite itu adalah produk sia-sia, karena memang juga belum berstandar Euro 2 (Feul spec Euro 2),” tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, seperti diberitakan Dapurpacu, Muhammad Jafar sebagai Costumer Relationship Management Pertamina, menjelaskan, “Pertamina kan saham mayoritasnya pemerintah, jadi kita selalu bicaranya apa maunya pemerintah.”

Pada dasarnya, lanjut Jafar, Pertamina itu sudah kepayahan untuk menjual bensin jenis Premium. “Pasalnya, Pertamina merugi hingga November 2015 lalu, karena dipaksa menjual Premium dengan harga sesuai ketentuan pemerintah, sementara subsidi untuk itu sudah dihentikan.”

Kondisi ini tentu menggambarkan bahwa Indonesia jauh tertinggal dengan negara Asean lain, yang beberapa tahun belakang telah menetapkan kebijakan adopsi standar Euro 4, seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia, sedangkan Singapura sudah Euro 5.

Safrudin mengakui, bahwa kegagalan hal tersebut tidak serta merta menyalahkan Pertamina, pada dasarnya, semua bermuara pada pemegang dan atau pembuat kebijakan, dalam hal ini yakni pemerintah. Jadi, kebijakan politik begitu mempengaruhi kebijakan ekonomi. Bagi Safrudin, ke depannya pemerintah harus konsisten menerapkan kebijakan adopsi standar Euro yang lebih tinggi. Meski jika hal itu dianggap tidak populis.