Euro NCAP

SolusiMobil.com – Mulai 2015 lalu, New Car Assessment Program Eropa (Euro NCAP) memperkenalkan sistem tes uji tabrak baru bagi mobil-mobil yang akan dijual. Prosedur baru tersebut diklaim untuk mengetahui tingkat keamanan mobil secara menyeluruh.

 

Seperti diberitakan VIVA, pernyataan Euro NCAP menyebut, semua mobil baru diuji dengan berbagai tes kecelakaan. Simulasi yang dilakukan diklaim mampu mengukur dampak tabrak dari arah depan dan samping, mobil terguling, hingga dampak tunbukan terhadap pejalan kaki.

 

Lantas, bagaimana proses pengetesan, tujuan, dan manfaat program yang dilakukan dalam Euro NCAP? Ini beberapa aspek yang perlu diketahui masyarakat untuk memahami mengapa uji tabrak itu perlu dilakukan:

 

Tes Tabrak Depan/Frontal Impact

Tes tabrak depan awalnya dikembangkan oleh European Enhanced Vehicle-safety Committee. Dalam tes ini, mobil diarahkan untuk menabrak penghalang dengan kecepatan 64 kpj. Tujuannya untuk mengetahui risiko cedera pengemudi dan penumpang ketika menabrak dari depan.

 

Tes tabrak depan merupakan uji paling dasar dalam prosedur pengujian kecelakaan. Secara gamblang, tes ini dilakukan guna meniru jenis kecelakaan yang paling sering terjadi, yaitu ketika mobil menabrak benda di depannya atau dua mobil saling bertubrukan dari arah berlawanan.

 

Simulasi dilakukan menggunakan boneka pria sebagai pengemudi dan kadang juga boneka lain di sisi penumpang. Dampak tumbukan ini kemudian diukur untuk mengetahui resiko cedera setelah mobil menabrak penghalang. Secara teknis, dengan kecepatan 55-64 kpj, hanya 40% mobil yang merubah bentuk penghalang.

 

Pada 2015, Euro NCAP memperkenalkan sistem tes tabrak depan terbaru. Mobil yang diuji tidak diarahkan menabrak penghalang dalam kecepatan 64 kpj melainkan hanya 50 kpj. Namun bedanya, selain boneka pria dewasa di kursi pengemudi, kursi sisi penumpang belakang kini ditempati oleh boneka anak perempuan.

 

Kendati dilakukan pada kecepatan yang lebih rendah, tes ini dianggap lebih holistik. Karena selain memperhitungkan kualitas sasis mobil, juga menunjukkan mutu sabuk pengaman yang dipakai, baik untuk pengemudi maupun kursi penumpang belakang.

 

Tes Tabrak Samping/Pole Side Impact

Prosedur ini terdiri ketika mobil yang diuji diproyeksikan ke samping pada kecepatan 32 kpj ke tiang kaku dan relatif sempit. Jika di dalam mobil tidak ada airbag pengemudi, maka hampir dipastikan pengemudi akan mengalami cidera kepala berat.

 

Pole side impact sering dianggap sebagai salah satu tes paling kejam dalam pengujian Euro NCAP. Sebab selain mengukur integritas struktur kendaraan, tes tabrak samping pada dasarnya digunakan hanya untuk menguji potensi cedera yang terjadi di kepala pengemudi.

 

Sebelum tahun 2009, hasil uji tipe ini hanya digunakan sebagai tambahan tes tumbukan dari arah samping. Namun kini tes Pole Side Impcat adalah wajib, dan termasuk pengujian cedera potensial lain untuk bagian tubuh yang penting, seperti dada atau perut.

 

Tes Pejalan Kaki/Pedestrian Impact

Karena tidak semua kecelakaan mobil terjadi antar kendaraan atau benda diam, tes yang dilakukan juga menguji dampak tabrakan kepada orang di luar kendaraan. Tes pejalan kaki pun menjadi segmen penting dari prosedur pengujian Euro NCAP.

 

Uji keselamatan pejalan kaki terdiri dari sejumlah simulasi untuk setiap komponen individu. Ada tiga jenis dampak yang diuji, yaitu Leg form (dampak pada kaki), Upper Leg form (dampak pada kaki bagian atas termasuk perut dan dada) serta Head form impactor (luka pada kepala).

 

Semua tes pejalan kaki ini menggunakan boneka orang dewasa yang ditabrak dengan kecepatan 40 kpj.

 

Lainnya

Selain tes tabrak depan, samping, dan pada pejalan kaki, Euro NCAP juga menguji fitur-fitur pada mobil moderen. Serta dampak kecelakaan dengan memperhitungkan perlindungan anak dengan menggunakan ISOFIX, dan whiplash dalam kasus kecelakaan yang datang dari arah belakang.

 

Electronic Stability Control (ESC)

Tes ESC pertama kali dilakukan pada tahun 2011. Tujuannya untuk menguji tingkat kemampuan fitur keselamatan aktif pada kendaraan. Hal ini kemudian menjadi bagian penting dalam penilaian keamanan karena dianggap dapat memperkecil resiko kecelakaan.

 

Pengujian ESC untuk mengevaluasi arah kemudi dan perilaku secara bersamaan. Tes dilakukan berdasarkan manuver perubahan jalur ganda yang disebut ‘sine-with-dwell’. Caranya, mobil dibawa pada kecepatan pada 80 kpj, kemudian setir diputar 270 derajat secara tiba-tiba untuk mensimulasikan manuver mengelak.

 

Karena pada akhir 2014 semua mobil yang dijual di Eropa harus menerapkan ESC, Euro NCAP tidak lagi memasukkan tes ini dalam penilaian mobil baru. Sehingga mobil produksi 2016 ke atas tidak lagi medapat penghargaan meski menganut ESC.

 

Automatic Emergency Braking (AEB)

Sejak para produsen mobil memperkenalkan sistem pengereman darurat otomatis atau AEB di mobil mereka, Euro NCAP juga memasukkan tes fungsi ini dalam tiga skenario berkendara yang berbeda.

 

Pertama adalah menguji mobil ke arah mobil lain dalam keadaan diam pada kecepatan antara 30-80 kpj. Kedua, menguji ke arah mobil lain namun dalam keadaan sama-sama berjalan. Ketiga, menyusul kendaraan lain yang tiba-tiba melakukan pengereman dari 50 kpj.

 

Sistem Keamanan Aktif/Advanced Active Safety Systems

Euro NCAP juga memberikan penghargaan kepada mobil yang dilengkapi dengan beragam fitur keamanan aktif, seperti Blind Spot Monitoring, Lane Support systems, Speed Alert Systems, Emergency Braking, Attention Assist, Automatic Emergency Call dan Pre-Crash mitigation systems.

 

Kesimpulan

Kendati sejumlah risiko kecelakaan sudah disimulasi dan dapat mewakili bukti tak terbantahkan keselamatan mobil. Namun konsumen perlu mengerti bahwa semua tes dilakukan dalam lingkungan yang terkendali dan mengikuti semua aturan yang telah ditetapkan.

 

Dengan kata lain, konsumen tidak harus menetapkan pilihan ketika membeli mobil baru hanya bergantung dari peringkat crash test. Sebab tidak peduli seberapa baik hasil uji, dalam kehidupan nyata tidak ada kecelakaan yang sama persis dengan tes tertutup.[Gls/Wa]