Perompakan di Teluk Guinea menurun akibat masih rendahnya harga minyak (ilustrasi)

 

SolusiMobil.com - Masih rendahnya harga minyak membuat konsekuensinya terasa di seluruh masyarakat. Hal ini memberi arti bahwa bahan bakar menjadi lebih murah, yang mana juga memberikan arti bahwa orang memiliki lebih banyak uang untuk dibelanjakan, meskipun beberapa orang lebih memilih untuk menyimpannya. Ihal ini juga memberikan arti bahwa lebih banyak orang yang berkendaraan, yang memberikan makna lebih banyak emisi terjadi, tetapi juga lebih banyak orang meninggal dalam kecelakaan. Hal tersebut merugikan bagi penjualan mobil hybrid, tapi para pembeli EV dapat memperoleh beberapa penawaran yang bagus. Hal tersebut juga merugikan perusahaan minyak, yang telah mengecilkan produksinya, yang menjadi bermacam-macam berita bagi lingkungan, tetapi juga memiliki efek sendiri bagi perekonomian. Yang cukup menarik, minyak yang murah ini tampaknya juga merugikan bajak laut. 

 

Harga minyak yang rendah berujung pada pertimbangan terhadap risiko/manfaat yang sederhana membuatnya tidak berharga bagi beberapa bajak laut untuk mencoba merebut kapal tanker. Di Teluk Guinea, yang merupakan jalur pelayaran utama bagi kapal tanker minyak, serangan dari bajak laut menurun dari 69 kasus pada tahun 2014 menjadi 49 kasus pada 2015. Bolaji Akinola, analis industri maritim Afrika Barat, mengatakan bahwa Nigeria yang merupakan jantung dari produksi minyak Afrika, telah kehilangan sebanyak 500.000 barel per hari ketika harga lebih dari $ 100 per barel, atau sekitar seperempat dari pasokan yang keluar.

 

Florentina Adenike Ukonga, sekretaris eksekutif Komisi Teluk Guinea menyetujui apa yang dikatakan Akinola di atas. Dikatakannya bahwa dengan harga minyak di bawah harga terendah di bawah $ 30 per barel, pembajakan tidak lagi menjadi bisnis yang menguntungkan seperti ketika harga mencapai $ 106 per barel beberapa tahun yang lalu, penurunan harga tersebut telah memberikan kontribusi yang besar dalam mengurangi pembajakan dan kejahatan maritim lainnya di Teluk Guinea.

 

Tentu saja, ada alasan lain terhadap turunnya pembajakan itu, meliputi peningkatan komunikasi, kolaborasi dan koordinasi terhadap upaya anti-pembajakan oleh beberapa angkatan laut. Selain itu, ditambahkan oleh Akinola bahwa perompak dari Afrika Barat tersebut telah mengadaptasikan perusahaan kriminal mereka dalam menghadapi haraga minyak yang murah, dengan lebih memfokuskan pada penculikan dan tebusan dari pada mencuri minyak bumi, begitulah jenis pembajakan yang terjadi di daerah Somalia, di Teluk Aden.

 

Dengan mencuri minyak tidak menjadikan bisnis ini sekali saja menguntungkan. Namun, sampai kondisi membaik bagi orang-orang yang tinggal di wilayah itu, kejahatan akan terus berlanjut. Akinola menambahkan perkataannya bahwa dalam jangka panjang, ada kebutuhan dalam menyediakan lapangan kerja bagi kaum muda, terutama di daerah Delta Niger di Nigeria, dia mengharapkan kesadaran orang terhadap fakta pembajakan di wilayah Teluk Guinea yang lebih luas telah disalahkan pada bajak laut Nigeria. Jadi sampai orang mampu melakukan perlawanan terhadap kelompok orang seperti itu, mereka akan terus menetapkan bahaya untuk berlayar. [tm]