Mitsubishi Colt

SolusiMobil.com - Mitsubishi sedang dalam masa restrukturisasi pasca mundurnya Tetsuro Aikawa sebagai bentuk tanggung jawab dari kasus manipulasi angka efisiensi BBM yang mereka lakukan sejak tahun 1991. Merek mobil berlogo tiga berlian ini sahamnya kemudian terjun bebas, dan kini mereka resmi jadi milik Nissan, dengan dalih semoga Nissan bisa menyelamatkan Mitsubishi dari kerugian lebih lanjut.
 

 
Jika sudah begitu, tentu tidak ada yang mau kejadian memalukan ini terulang kembali. Hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama lebih dari sekali. Untuk memulihkan perusahaan dan mengembalikan kepercayaan konsumen, Mitsubishi dikabarkan siap merekrut pihak ketiga di luar lingkup perusahaannya, terutama untuk menjaga tingkah dari divisi teknologi Mitsubishi, supaya tidak ada engineer nakal yang “main-main”.
 
Seperti diberitakan Dapurpacu, ada 3 praktek kecurangan tingkat tinggi di divisi teknologi Mitsubishi, demikian menurut 2 orang yang mengaku familiar dengan perusahaan itu. Di sinilah peran auditor dari pihak ketiga dirasa penting, karena statusnya independen, ia bisa menilai apa yang terjadi di seluruh perusahaan dan bisa membantu dalam segala pengambilan keputusan, termasuk membantu merombak divisi R&D serta teknologi.
 
Menurut pengakuan narasumber dari Reuters, divisi perusahaan yang mengurus R&D serta teknologi di Mitsubishi beroperasi dengan “kontak terhadap dunia luar yang super minim”, dan kerap dikomplain atas sikap “kerahasiaan” dan “arogansi” dari para engineer yang kerja di sana. Masalah? Tergantung, dilihat dari mana? Dilihat dari sisi sosial, memang sepertinya agak membingungkan jika kondisinya dilihat seperti itu.
 
Tapi jika dari sisi persaingan bisnis dan kompetisi, hal tersebut tidak sepenuhnya menjadi momok negatif. Kerahasiaan dan arogansi tersebut memang diperlukan sebagai upaya untuk menjaga kepemilikan rahasia perusahaan – dalam hal ini, teknologi – yang menjadi andalan dan bisa membuatnya bersaing dengan merek lain. Kontak minim dengan dunia luar pun bisa dimaklumi, karena tidak sembarangan orang boleh masuk dan melihat teknologi andalan yang dipunya oleh Mitsubishi.
 
Kalau teknologi tersebut dicuri, dijual secara ilegal lalu diklaim oleh merek lain, rugilah Mitsubishi. Siapa yang mau tanggung jawab? Begitulah, namun jika kerahasiaan dan arogansi dipergunakan untuk melakukan sesuatu yang salah, jelas itu tidak pernah diharapkan oleh siapa pun. Sampai saat ini, belum diketahui dari perusahaan mana yang mau mengaudit Mitsubishi, tapi tentu kita harapkan kondisi mereka kembali pulih.