Logo Ford

SolusiMobil.com - Pemilik mobil di Massachusetts, Amerika Serikat, menggugat class action  Ford Motor, General Motors (GM) dan Toyota karena dianggap lalai melindungi konsumen. Mobil buatan mereka rawan diretas hacker tapi mereka tak melakukan apapun.

 

Dikutip dari Dapurpacu, adalah Helen Cahen, perwakilan konsumen yang melayangkan gugatan tersebut. Dalam gugatan setebal 343 halaman itu, Cahen menggugat pabrikan  karena mereka dia nilai melanggar hak garansi, kontrak, serta perlindungan konsumen.

 

Sebagai dasarnya, ia merujuk hasil penelitian yang dilakukan oleh Defense Advanced Research Project Agency Amerika Serikat yang dilakukan pada 2013 lalu. Hasil penelitian menunjukan, keamanan para pengemudi mobil saat ini sangat tergantung kepada perangkat sistem elektronik kendaraan mereka.

 

Saat ini,  mobil menggunakan Electronic Control Unit (ECU) untuk menghubungkan semua area jaringan controller yang disebut dengan CAN atau CAN Bus.  Peranti ECU itu berkomunikasi dengan CAN melalui pesan digital yang berisi serangkaian data.

 

Sementara, di  CAN itulah sejumlah perintah elektronik penting fitur-fitur mobil  berada. Pesan tersebut mulai dari pengereman, akselerasi dan deselerasi mobil, laju kemudi, sistem injeksi, dan bahkan buka tutup pintu melalui central lock mobil.

 

Semua pesan tersebut diketahui rawan dikendalikan oleh hacker tak bertanggungjawab  karena sistem CAN mudah diretas. “Ini  tentu sangat menakutkan. Untuk Anda ketahui,  pada saat Anda mengemudikan mobil di jalan raya, dan tiba-tiba hacker bisa menguasai dan mengendalikan mobil Anda (tiba-tiba gas mobil seperti dibejek, mengerem, mesin mati, dan lain-lain karena elektronik mobil diretas). Toyota tidak pernah menyebutkan risiko ini ketika mempromosikan teknologi saat mobil dijual,” papar Cohen di surat gugatan yang dikirim 10 Maret.

 

Pengacara para penggugat, Marc Stanley, mengatakan Toyota, Ford, dan GM telah sengaja menyembunyikan bahaya yang terkait dengan sistem kompouter mobil buatan mereka. “Ini menyesatkan konsumen,” kata dia.

 

Pada tahun 2011, para peneliti telah menemukan fakta bahwa mobil bisa d-hacked dan dikendalikan dari jarak jauh oleh para hacker hanya melalui telepon seluler. Mereka dengan mudah menemukan celah setelah mengumpulkan sejumlah data.

 

Namun, pabrikan mobil dinilai tak melakukan apapun atas temuan itu. Bahkan tak sedikit di antara mereka yang mengelak dan menyebut mobil buatan mereka tak bisa diretas.

 

Senator Massachusett,  Edward Markey, mengaku telah menerima jawaban dari pabrikan ihwal tudingan  dan tuntutan dari konsumen itu. Dia mengatakan menerima laporan penjelasan dari 20 produsen mobil tentang langkah-langkah keamanan dan perlindungan bagi konsumen di mobil buatannya.

 

Tetapi, kata Markey, hasil penelitian lain menyebut bahwa hampir semua kendaraan modern memiliki semacam koneksi elektronik nirkabel yang mengontrol sistem penting mobil buatan mereka. Hanya memang, perlindungan terhadap upaya peretasan kerap tidak konsisten dan dilakukan secara serampangan.

 

“Temuan ini menunjukkan bahwa ada kurang jelasnya langkah-langkah keamanan yang tepat untuk melindungi pengemudi terhadap hacker yang mungkin dapat mengendalikan kendaraan. Atau,  (perlindungan) terhadap aksi-aksi mereka (hacker)  yang mungkin ingin mengumpulkan dan menggunakan informasi sopir pribadi (pemilik mobil,” bunyi laporan yang diterima Markey. [Car/Wa]